Monyet dan Brontosaurus

Memang, monyet mungkin tidak ada hubungannnya dengan Brontosaurus. Mereka bukan kakak adik, bukan saudara sepupu, bukan keponakan, bukan sepasang kekasih, bahkan bisa jadi mereka tidak pernah bertemu bertatap muka. Namun ketika cinta sudah bicara, maka muncul seutas tali yang menghubungkan mereka. Cinta Monyet dan Cinta Brontosaurus.

Sejauh yang aku tahu, cinta monyet lahir dan muncul pada waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Cinta monyet biasa diartikan cinta anak kecil, cinta bohong-bohongan, cinta main-mainan. Hal itu bisa dibenarkan, karena memang pelaku dari cinta tersebut adalah anak kecil yang rata-rata umurnya dibawah 11 tahun. Dan aku yakin mereka belum mengetahui arti cinta secara mendalam.

Namun aku belajar dari kelakuan anak SD dengan cinta monyet mereka, bahwa ketika mencintai seseorang kita harus seperti anak kecil. Membuang jauh sifat dewasa yang penuh dengan ego, menang sendiri dan tak mau mengalah. Anak kecil mencintai seseorang dengan apa adaya tanpa memikirkan alasan. Cukup dengan ‘aku cinta kamu’ titik.

Berbeda dengan cinta monyet, cinta brontosaurus lebih besar -dan memang brontosaurus jauh 1000 km lebih besar dari monyet. Cinta brontosaurus biasanya mengidap pada anak kuliahan yang sudah mengerti komitmen dan nantinya akan berlanjut ke jenjang yang lebih serus. Cinta brontosaurus bahkan berlaku bagi pasangan yang sudah menikah puluhan tahun sampai mereka mempunyai anak dan menimang cucu.

Akupun mengerti, bahwa cinta brontosaurus memang dirasa berat dan butuh pemikiran ekstra, karena memang pelakunya bukanlah anak kecil lagi dan cinta ini bukanlah cinta yang sekedar main-main. Akupun menyadari cinta yang kita miliki haruslah sebesar dan sekuat brontosaurus yang mampu bertahan dan tidak kadaluarsa sampai salah satu dari pasangan kita meninggalkan dunia terlebih dahulu.

Kemudian muncul pertanyaan, cinta di antara cinta monyet dan cinta brontosaurus disebut dengan apa? Aku mencoba menjawab, pelaku dari cinta ini adala anak SMP – SMA dan sederajat. Pada masa ini mereka mengalami masa puber atau masa menuju dewasa, sweet seventeen dan juga masa alay dan labil ababil. Dari sini aku mulai bingung apa sebutan yang tepat untuk cinta mereka. Dan akhirnya kuputuskan untuk menyerahkan sebutan itu kepada mereka masing-masing. Jadi, dengan sifat alay dan lebay bisa jadi cinta mereka disebut ‘C1nt4 Al4Y’, -(huek sekali aku mendengar tulisan itu)

Pada akhirnya apapun sebutan cinta kamu dan di umur berapa kamu merasakan cinta, pahamilah kemauan pasanganmu, lebih banyaklah mengalah, jangan sampai membuat pasanganmu tersakiti. Perlu diketahui, cewek yang hanya sekali tersakiti jauh lebih lama sembuhnya dari pada cowok yang berulang kali tersakiti. Cintailah pasanganmu dengan ketiga cinta diatas, apa adanya tak butuh alasan, sedikit lebay dengan gombalan (jangan sampai overdosis) dan menjaga kesetiaan dan komitmen sampai salah satu meninggalkan dunia.

“Cintailah pasanganmu dengan cinta monyet, cinta alay dan cinta brontosaurus”

NB : Thanks to @radityadika – Cinta Brontosaurus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s